Asrul Syam, S.PdI. Buku Bekas untuk Siswa tak Mampu

1
Usianya masih belia, sekitar 12 tahun. Kecelakaan akibat tergigit ular di kaki kirinya membuat Asrul Syam tak bisa berjalan. Apa boleh buat, ia mesti berhenti bersekolah. Toh, semangat belajarnya tidak padam. Ia terus mengasah diri dengan tetap belajar sendiri. Setelah dua tahun tak mengikuti pendidikan formal, keinginannya kembali ke bangku sekolah kian membara. Dia datang ke sekolah, bergabung bersama siswa kelas akhir. Ia ingin mengulang di kelas itu.

Tidak seperti siswa yang lain, dia tak punya buku, sehingga guru menyuruhnya keluar dari ruang kelas. Anak itu mengikuti perintah guru, tapi ia tidak kembali ke rumah. Dari luar kelas ia memperhatikan guru mengajar. Soal-soal yang diberikan kepada siswa di dalam kelas, ia jawab dengan menggores-goreskan tangan di tanah. Ketika guru menanyakan jawaban dari pertanyaan yang tertuliskan di papan, tak ada siswa yang menjawab. Dari luar ruang kelas anak itu mengacungkan tangan, ‘Saya tahu, Pak.” Asrul menjawab pertanyaan itu dengan benar.

Guru itu lalu memanggilnya. Dia diminta duduk di sebelahnya. Usai jam pelajaran, keduanya jalan beriringan, menuju rumah guru. Di rumah itu, ia diberi sejumlah buku bekas yang sebagian halamannya belum ditulisi. Buku itu ia bawa pulang. Halaman yang masih kosong ia satukan lalu dijahit menjadi buku. Dengan buku jilidan sendiri, ia kembali masuk ke ruang kelas, belajar bersama siswa kelas akhir lainnya.

Peristiwa tahun 1960-an di SD Padang Laban II, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, itu terus membekas di hati Asrul. Pengalaman masa sekolah di kampung membuat ia tak betah melihat lembar-lembar buku bekas yang kosong tidak termanfaatkan. Itu pula yang memberinya inspirasi untuk membantu menyediakan buku tulis bagi siswa dari keluarga tak mampu secara cuma-cuma.

Dari sekolah
Kegiatan mengumpulkan buku tulis bekas mulai ia lakukan pada 1983. Saat itu Asrul sudah diangkat menjadi guru yang ditugaskan di SDN Klender 20 Pagi, Jakarta. Di akhir tahun ajaran, ia mengumpulkan buku-buku bekas anak didiknya dan memboyongnya pulang ke rumah. Lembar-lembar buku yang belum ditulisi ia copot. Hal serupa ia lakukan terhadap sampul buku yang biasanya dibalut plastik.

Lembar-lembar kertas kosong dari buku yang sama mereknya ia satukan, lalu dijadikan buku. Lembar buku yang sudah ditulisi tetap tidak sia-sia karena menjadi barang bekas yang masih bernilai ekonomis. ”Sekitar 75 persen sampah,” ujar pria kelahiran Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 31 Desember 1955 ini. ”Selebihnya, sekitar 25 persen bisa dirangkai kembali menjadi buku tulis,” lanjutnya.

Asrul mengakui kegiatan mengumpulkan buku tulis bekas di sekolah tak luput dari cibiran, termasuk dari sesama guru, ”Sampai ada yang berkomentar, ”Ini menghina guru.” Tapi, saya hanya bilang, ”Tidak apa-apa. Ini niatnya ibadah.” Karenanya, ayah tiga anak itu tak goyah oleh cibiran. Ia tetap melakukan kegiatan serupa tahun-tahun berikutnya. Buku daur ulang itu ia berikan kepada para siswa yang tidak mampu membeli buku tulis.

40-60 karung buku
Sekali waktu, pada 1995, Asrul saat itu mengajar di SDN Percontohan Pondok Bambu 10 Pagi mengajukan proposal kepada Kepala Dinas Pendidikan Dasar Kecamatan Duren Sawit. Ia minta persetujuan kepala dinas melakukan pengumpulan buku bekas di sekolah-sekolah yang ada di kecamatan itu. Sejak itu, sekolah-sekolah di kecamatan ini mengumpulkan buku-buku bekas siswa, setiap akhir tahun ajaran. Dibantu tiga orang, Asrul mengambil buku-buku yang sudah dikumpulkan di sekolah-sekolah tersebut. ”Biasanya mereka telepon, kita datang ambil,” ucapnya.

Setiap tahun, sekitar 40-60 karung buku bekas terkumpul. Buku-buku itu dikumpulkan di lantai dua rumahnya di bilangan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Setelah disortir, lembar kertas yang masih utuh dijadikan buku. Tidak kurang dari 5.000 lembar buku yang bisa diperoleh. ”Buku itu kita serahkan kembali ke sekolah masing-masing. Sekolah menyerahkan kepada siswa yang kurang mampu,” kata dia.

Tidak jarang, Asrul mengirim buku yang sudah ia jilid ke daerah lain, seperti Sumatra Barat dan Tasikmalaya. Ternyata, tidak semua sekolah berniat sama, membagikan buku-buku itu kepada siswa tidak mampu secara gratis. Asrul pernah menemukan buku buatannya dimasukkan ke dalam koperasi sekolah, dijual seharga Rp 800 per buku. Buku itu ia tarik. ”Karena tujuannya supaya bermanfaat kepada anak-anak yang patut menerima. Niatnya untuk ibadah,” ujar dia.

Kini, buku-buku daur ulang buatan Asrul bersampul khusus, bertuliskan ‘Kegiatan Peduli Siswa Rawan Putus Sekolah, Cerdas Bangsaku!’ Bagian dalam sampul ada keterangan menjelaskan asal-usul buku, dilengkapi telepon rumah dan sekolah tempatnya mengajar.

Dia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan di seluruh DKI Jakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia, sehingga makin banyak siswa dari keluarga kurang mampu bisa terbantu. Selain bermanfaat, menurut dia, penjilidan buku bekas membantu pemerintah menanggulangi sampah. ”Kalau jadi buku, bisa menjadi ilmu. Dengan ilmu bangsa ini maju,” ujar dia.

Asrul memang sudah membuktikan. Dari buku bekas, ia bisa lulus dari Pendidikan Guru Agama (PGA), 1976, di Sumatra Barat. Pada 2002 ia meraih sarjana pendidikan agama (SPdI) di salah perguruan tinggi di Jakarta. bur

Sumber: Republika. Minggu, 21 Oktober 2007

Responses

  1. seemaangaat paakk …🙂

  2. Bravo Pak Asrul … niat yang sungguh mulia🙂

    • Terima kasih, Pak Arya….

      Pak Asrul dan dewan guru SDN Pondok Bambu 1o Pagi selalu berusaha untuk menciptakan hals kreatif lainnya, tentunya sesuatu yang berguna untuk menunjang kelangsungan program pendidikan nasional.

      Tetap kunjungi situs kami, Pak Arya…. dan mohon support-nya

  3. Saya murid Beliau , alumni 2004. Apriyanti,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: