Posted by: SDN Pondok Bambu 10 Pagi | October 27, 2009

Usaha Menggantikan Kapur Tulis

Sebuah program untuk membangun metode pembelajaran berbasis teknologi informasi tengah dijalankan. Sudah siapkah para guru menerimanya?

Tak ada lagi serpih putih mengotori ruang, ketika sang guru menggoreskan kapur tulis di papan tulis. Yang ada, jemari itu justru lincah memainkan toets papan keyboard sebuah komputer jinjing.

Pemandangan ini bukan mustahil terjadi jika saja program satu guru satu laptop (Sagusala) yang digagas sebuah organisasi profesi guru bernama Klub Guru berhasil dilakukan. Sebuah revolusi besar di dunia pendidikan akan terjadi. Dari metode pembelajaran tradisional, menuju ke sebuah sistem pembelajaran berbasis teknologi informasi atau information technology (IT) dan Internet.

Satria Dharma, Ketua Umum Klub Guru Indonesia, mengatakan performa guru saat ini kurang menggembirakan. Boleh dikatakan, kualitas guru di negeri ini begitu-gitu saja tanpa kemajuan berarti. Penyebabnya klasik, banyak guru di Indonesia yang jauh dari akses informasi, sehingga ilmu yang dimiliki tidak berkembang. Di satu sisi, banyak murid yang justru memiliki akses tersebut lebih baik dari gurunya. �Murid-murid zaman sekarang sudah melek IT dan Internet, sedangkan gurunya banyak yang gagap teknologi,� ujar Satria.

Sebuah survei menarik dilakukan oleh Pustekkom tentang penggunaan Internet oleh para guru. Hasilnya miris. Hanya ada segelintir guru yang menggunakan sistem pembelajaran berbasis IT dan Internet. Selebihnya, mereka masih membawa setumpuk buku, spidol, atau batang kapur tulis untuk mengajar. Artinya, dunia teknologi dan Internet masih jauh menjamah mereka.

Padahal, banyak hal yang dapat dilakukan lewat kecanggihan teknologi komputer dan Internet. Melalui pendidikan berbasis IT, guru dapat membuat bahan ajar menjadi menarik dan atraktif, sehingga kejenuhan siswa dalam menerima bahan ajar yang selama ini terjadi dapat diminimalisasi. Sedangkan melalui Internet, dapat menjadi media bagi guru untuk selalu memperbarui informasi untuk mencari bahan ajar bagi murid-muridnya. �Internet itu jendela dunia, ini lebih ringkas ketimbang harus membawa buku ke mana-mana,� Kata Satria Dharma, Ketua Klub Guru.

Maka dari itu, dipilihlah laptop sebagai perangkat penunjang agar guru bisa terus belajar kapan dan di mana saja. Tidak hanya di kelas, tapi di rumah, bahkan ketika mengikuti pelatihan. Dengan begini, kesempatan guru untuk belajar dengan materi-materi yang up to date semakin terbuka. �Ini akan semakin meningkatkan standar kompetensi dan profesionalisme guru,� tegas Satria.

Hal ini disambut baik oleh kalangan guru. Mampuono misalnya, seorang guru di Sekolah Menengah Pertama 18 Semarang telah mencobanya dan berhasil. Ia sudah menanggalkan dan tidak lagi terlalu bergantung pada sistem pembelajaran tradisional sejak dua tahun yang lalu. �Saya banyak menggunakan multimedia dalam pembelajaran,� ujar Mampuono.

Sejak itu pula, guru yang mengajar kimia itu sudah mulai mengaplikasikan laptop dalam kegiatan belajar mengajarnya. Mampuono menuturkan banyak kelebihan yang ia dapatkan dari penggunaan laptop dalam menjalankan profesinya. Ia dapat mengakses bahan ajar dari dunia maya, tinggal download, maka materi tersebut sudah berpindah ke dalam laptopnya. �Saya bisa belajar di mana saja, dan tidak ketinggalan informasi,� tutur pria kelahiran Semarang ini.

Tidak hanya mencari bahan ajar dari Internet, dengan kecanggihan teknologi komputer jinjingnya tersebut ia juga dapat menciptakan bahan ajar yang lebih menarik dan atraktif. Dengan menggunakan multimedia dalam pembelajaran, terbukti mampu menunjang efektivitas proses pembelajaran. �Terutama untuk peragaan kimia, tidak perlu repot-repot membawa peralatan,� terang Mampuono.

Program Sagusala
Apa yang dialami oleh Mampuono tentu menjadi inspirasi bagi seluruh guru di Indonesia. Untuk itulah, Klub Guru Indonesia merasa program Sagusala ini layak dipercepat pergerakannya. Konsep ini kemudian dibawa Satria Dharma bersama timnya di Klub Guru ke sejumlah produsen. �Sementara ini, ada enam produsen yang kita gandeng, dan mereka sangat mendukung program ini,� Kata James F Tomasouw, Project Manager Sagusala.

Keenam vendor tersebut mewujudkan dukungannya dengan memberikan harga murah pada laptop yang diperuntukkan untuk para guru ini. �Harganya berkisar antara 2,5 hingga 6juta rupiah,� kata James.

Laptop murah ini merupakan edisi khusus dan terbatas. Edisi khusus karena di dalam laptop tersebut sudah otomatis ditandemkan sejumlah software yang berhubungan dengan pembelajaran. �Content tersebut disesuaikan dengan bidang studi guru tersebut,� tambahnya.

Sedangkan terbatas berarti hanya gurulah yang boleh membelinya dan tidak dijual untuk umum. Pembelian harus disertai dengan bukti surat dari sekolah atau Kartu Anggota Korpri. Pembelian pun dibatasi, maksimal dua buah laptop per gurunya. Ini untuk mencegah pemasaran yang tidak tepat sasaran.

Saat ini, Klub Guru sedang gencar melakukan sosialisasi tentang Sagusala ke daerah-daerah. Bahkan di beberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, Sagusala Fair telah digelar. Klub Guru juga bekerja sama dengan sejumlah leasing untuk melayani para guru yang menginginkan kredit untuk laptop tersebut. �Selain murah, kami juga mengupayakan adanya kredit untuk kepemilikan laptop ini,� ungkap James.

Tentunya hasil positif yang dijanjikan dari revolusi setelah laptop berada di tangan para guru amat dinantikan.
cit/L-1

Sumber : Koran Jakarta, 06 Mei 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: