Posted by: SDN Pondok Bambu 10 Pagi | October 27, 2009

Memilih Sekolah Dasar yang Sesuai

Hal pertama yang terpikirkan oleh orang tua ketika pertama kali menimang anak adalah bagaimana mendidik agar anak tersebut memunyai masa depan yang cerah. Oleh sebab itu, memberi pendidikan yang tepat untuk si buah hati adalah langkah yang terbaik.

Memberikan pendidikan yang tepat harus dimulai sejak awal, dari taman kanak-kanak (TK) sampai dengan sekolah dasar (SD). Pendidikan bukanlah sekadar menyekolahkan anak di sekolah ternama, tetapi harus dipertimbangkan juga dari segi keuangan dan kualitas pendidikan yang didapatkan.

Dalam beberapa dekade terakhir dan dengan masuknya Indonesia dalam era globalisasi, perkembangan dunia pendidikan di negeri ini sangat pesat. Banyak didirikan sekolah baru dengan kurikulum berbeda sehingga menambah daftar pilihan pendidikan yang harus dipertimbangkan. Bahkan, beberapa sekolah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Perlu diwaspadai bahwa tidak semua sekolah dengan bahasa Inggris sebagai pengantar adalah sekolah bertaraf internasional.

Pada 27 Juni 2007, Pemerintah meluncurkan Pedoman Penjamin Mutu Sekolah atau Madrasah Bertaraf Internasional pada Pendidikan Dasar dan Menengah, yang menjelaskan sekolah atau madrasah bertaraf internasional adalah sekolah atau madrasah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan atau negara maju lainnya yang memunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di forum internasional. Sekolah yang memenuhi standar seperti di atas inilah yang dikenal sebagai sekolah taraf internasional (STI).

Misalnya saja Sekolah Internasional Binus mengacu pada kurikulum Singapura untuk tingkat TK atau SD dan Cambridge International Examination dari University of Cambridge, Inggris, untuk Binus International School Serpong dan International Baccalaureate Organization (IBO) untuk Binus International School Simprug, sehingga bahasa pengantar pada kelas internasional ini adalah bahasa Inggris.

�Di Binus International School, kami menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Untuk bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin adalah merupakan salah satu dari mata pelajaran kami,� kata Ratna, Marketing Communication Binus.

Bahasa Inggris memang merupakan bahasa yang penting di era globalisasi ini, untuk itu anak perlu dibekali dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik agar kelak bisa bersaing dalam kompetisi yang semakin ketat.

Akan tetapi kita juga tidak boleh melupakan bahasa Indonesia yang merupakan akar budaya kita. Dalam perihal penggunaan bahasa Indonesia dalam sekolah sebenarnya sudah diatur dalam Pedoman Penjamin Mutu Sekolah atau Madrasah Bertaraf Internasional No.3 mengenai Proses Pembelajaran.

Isinya adalah sebagai berikut, �Pembelajaran mata pelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan menggunakan bahasa Inggris, sementara pembelajaran mata pelajaran lainnya, kecuali pelajaran bahasa asing, harus menggunakan bahasa Indonesia dan pelajaran dengan bahasa Inggris untuk pelajaran kelompok sains dan matematika untuk SD atau MI baru dapat dimulai pada Kelas IV �.

�Sebagai orang Indonesia kita harus menggunakan bahasa Indonesia,� kata Darmaningtyas, pakar pendidikan dan Ketua Dewan Penasihat Battle for Education.

Kepala Bidang Kurikulum Pendidikan Khusus dan Pendidikan Menengah Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Herry Widyastono mengatakan banyak sekolah di lapangan yang tidak mengikuti pedoman tersebut, untuk itu masyarakat harus berhati-hati memilih sekolah. Herry menceritakan ia pernah menemui satu kasus saat sebuah sekolah yang mengaku STI tanpa izin dari Depdiknas.

Sekolah tersebut menggunakan kurikulum Cambridge yang tidak disertai dengan kurikulum Indonesia, dan sekolah itu juga mengatakan bahwa setelah lulus murid-muridnya akan lebih mudah diterima di luar negeri. Ternyata, banyak lulusan dari sekolah tersebut yang tidak diterima di luar negeri ketika mereka mencoba untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia tidak diterima karena tidak ikut Ujian Nasional (UN) sehingga tidak memiliki ijazah. Akhirnya mereka terpaksa untuk mengikuti Ujian Paket C.

�Perlu diingat bahwa Ujian Nasional itu wajib diikuti untuk mendapatkan ijazah,� kata Herry. Karena itu, penting untuk memilih sekolah yang tepat untuk anak sejak SD.

Sedangkan menurut Darmaningtyas, keberadaan STI selain dari harga pendidikan yang cukup mahal, juga melanggar Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 3. �Dalam UUD 45 dikatakan pemerintah menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, dengan adanya STI pemerintah menyelenggarakan lebih dari satu sistem,� ujar Darmaningtyas.

Kategori Lain

Selain kategori internasional, Herry menjelaskan ada dua pembagian kategori sekolah oleh Depdiknas. Yang pertama adalah sekolah atau madrasah yang masih jauh dari Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang dimasukkan dalam kategori sekolah standar. Sedangkan untuk sekolah yang hampir memenuhi SNP dimasukkan dalam kategori sekolah mandiri atau dikenal juga dengan Sekolah Standar Nasional (SSN).

Dalam draf Rencana Strategis Depdiknas Tahun 2005-2009 per tanggal 9 Maret 2005, secara tegas disebutkan adanya jalur formal mandiri dan formal standar. Begitupun dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan, khususnya bagian penjelasan Pasal 16 Ayat (1).
Disebutkan bahwa jalur pendidikan formal mandiri merupakan jalur pendidikan formal yang diperuntukkan bagi warga negara yang mampu, baik secara akademik maupun secara finansial, dan memandang pendidikan sebagai investasi untuk masa depan. Namun demikian, jalur ini juga memberikan kemudahan akses bagi warga negara yang mampu secara akademik tetapi kurang mampu secara finansial melalui subsidi silang.

Model pembelajaran SSN menekankan pada potensi dan kebutuhan peserta didik agar mampu belajar mandiri yang dibangun melalui komunitas belajar di kelas. Strategi untuk memotivasi peserta didik membangun komunitas belajar tersebut meliputi, meyakini potensi peserta didik, membangun motivasi intrinsik, menggunakan perasaan positif, membangun minat belajar peserta didik, membangun belajar yang menyenangkan, memenuhi kebutuhan peserta didik, mencapai tujuan pembelajaran, dan memfasilitasi pengembangan kelompok.

Adapun jalur pendidikan formal standar diperuntukkan bagi warga negara yang kurang mampu baik secara akademik maupun secara finansial, sekaligus berfungsi sebagai jaring pengaman bagi mereka yang gagal atau belum berhasil bersaing di jalur formal mandiri.

SNP sendiri sudah melingkupi standar-standar seperti isi atau materi, proses pengajaran, kompetensi, pendidik dan tenaga pendidik, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, serta penilaian pendidikan.

Terlepas dari apa pun pilihan sekolahnya dan kurikulum yang digunakan, yang memegang kunci pendidikan adalah para guru. �Kalau perlu kita menyeleksi ulang seluruh tenaga pengajar yang kita punya dan mengadakan ujian bagi mereka,� kata Darmaningtyas.
nov/L-1

Sumber : Koran Jakarta,  17 Juni 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: