Posted by: SDN Pondok Bambu 10 Pagi | September 15, 2009

Bijak Memilih Ekskul Anak

Kebutuhan manusia secara umum mencakup 3 aspek: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif berkaitan dengan tataran pemikiran dan logika. Kalau afektif berkaitan dengan sisi perasaan atau emosi, sedangkan psikomotorik berkaitan dengan aktivitas fisik. Idealnya ketiga aspek itu dapat terpenuhi secara seimbang.

Pada anak-anak, aspek kognitif biasanya sudah terpenuhi lewat sekolah. Untuk memenuhi aspek afektif dan psikomotorik harus ditambah kegiatan lain, seperti ekskul (ekstrakurikuler). “Tapi karena sebagai penyeimbang, ekskul harus disesuaikan dengan kegiatan utama di sekolah. Bila ternyata di sekolah ketiga aspek tadi sudah terpenuhi, mungkin ekskul tidak diperlukan. Atau bila kegiatan sekolah dilakukan seharian, sebaiknya sisa waktu yang ada dimanfaatkan untuk bermain,” papar psikolog Lucia RM Royanto.

Jenis dan frekuensi
Dalam mencari kegiatan ekstra, lebih baik pilih yang unsur motorik dan afektifnya dominan. Ekskul yang mendukung perkembangan afektif biasanya berkaitan dengan seni, misalnya menari, menyanyi, menggambar, dan lain-lain. Kalau yang bersifat psikomotorik lebih ke arah kegiatan olahraga. “Meski begitu, bukan berarti kegiatan yang bersifat kognitif seperti les bahasa atau kumon tidak diperbolehkan. Selama anak berminat, silakan saja,” jelas Lucia sambil menekankan jangan sampai anak terlalu banyak kegiatan luar sehingga waktunya terkuras habis. “Kegiatan luar ini tidak boleh mengganggu pelajaran utama.”

Yang harus diperhatikan
Orangtua di mana pun pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Tetapi ingat, dalam pemilihan ekskul ini anak harus dilibatkan. Proses pemilihan itu akan mendidik anak untuk bertanggung jawab atas pilihannya.

Beberapa hal berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pemilihan ekstrakurikuler.

* Minat anak
Dalam mengarahkan pemilihan ekskul anak, minat menjadi faktor utama yang harus dipertimbangkan. Semua ekskul yang dipilih merupakan bidang yang diminati anak. Orangtua tidak boleh memaksakan keinginannya. Apalagi bila ekskul yang dipilihkan orangtua merupakan ambisi tertunda dari orangtua.

* Kapasitas anak
Sebagai orangtua, kita harus mengetahui sejauh mana kapasitas anak kita dalam menangkap semua kegiatan ekskul tersebut.

* Daya tahan anak
Daya tahan berkaitan dengan kondisi fisik anak. Lihat daya tahannya. Bila anak rentan sakit, mungkin ekskul dapat dilakukan di rumah. Memang, opsi ini memakan biaya lebih karena ekskul bersifat privat.

Untuk mengetahui sejauh mana minat, kapasitas, dan daya tahan anak kita dalam menjalankan ekskulnya nanti, berlakukan sistem “uji coba” (try out). Dengan demikian anak mendapatkan gambaran umum ekskul yang akan dijalaninya nanti. Apakah dia menyukai ekskul tersebut dan apakah dia mampu menjalankan ekskul tersebut.

Bila bosan melanda
Bosan dapat melanda siapa saja, termasuk pada anak. Bila anak mulai bosan dengan kegiatan ekskul yang dijalani, lakukan dialog dengan anak. Tanyakan pada anak keluhan yang dirasakan. Buat perjanjian dengan anak soal target yang bisa dicapai pada ekskul tersebut. Target yang telah disepakati, harus dijalankan anak. Di sini orangtua menuntut anak untuk menyelesaikan tugas yang tidak disukai. Hal ini melatih etos kerja anak. Anak tidak boleh hanya mengerjakan tugas yang dia sukai. Orangtua harus mendukung di saat anak mulai tidak semangat menjalankan kegiatan yang sebenarnya merupakan pilihannya sendiri.

(Emy Agustia/Sekar)

Sumber : Majalah Sekar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: