Posted by: SDN Pondok Bambu 10 Pagi | August 4, 2009

Tak Naik Kelas Berarti tak Cerdas?

KETIKA seorang anak mulai mengenyam pendidikan formal di sekolah, banyak hal yang menjadi sorotan. Salah satunya adalah bagaimana prestasi belajar anak di sekolah. Orang tua dan orang dewasa lain di sekitar anak seringkali memiliki harapan tertentu terhadap hal ini, sehingga masalah yang muncul dalam prestasi belajar dipandang sebagai masalah penting.

Masalah prestasi belajar yang lazim terdapat di Indonesia adalah kegagalan di bidang akademik yang ditandai dengan kondisi tidak naik kelas. Anak dianggap belum mampu memahami apa yang diajarkan selama satu tahun, sehingga perlu mengulang di jenjang yang sama. Di Indonesia kriteria kenaikan ke suatu jenjang pendidikan didasarkan pada ketuntasan dalam mata pelajaran.

Beberapa sekolah mensyaratkan ketuntasan pada setiap mata pelajaran dalam setiap aspek (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan beberapa memberikan batasan minimal ketidaktuntasan untuk dikatakan mampu naik ke tingkat di atasnya. Syarat kenaikan kelas di atas mengandaikan bahwa semua siswa diharapkan menguasai semua materi atau setidaknya sebagian besar materi yang ditentukan oleh pembuat kebijakan pendidikan.

Dengan kata lain siswa dituntut memiliki berbagai kemampuan dalam kurikulum sekolah tanpa memperhatikan perbedaan individual tiap siswa. Jika siswa tidak berhasil mencapainya, dia dinyatakan tidak naik kelas dan dianggap sebagai siswa yang tidak cerdas. Pertanyaannya adalah, benarkah tidak naik kelas sama dengan tidak cerdas?

Pada kenyataannya, setiap siswa memiliki kemampuan khusus yang berbeda-beda yang semuanya dapat dikatakan sebagai kecerdasan. Armstrong (1993) menyebutkan kemampuan linguistik, logika-matematika, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, dan intrapersonal sebagai bentuk-bentuk kecerdasan.

Barangkali seorang siswa tidak mampu menghafal atau memahami banyak materi dalam kurikulum di sekolahnya, tetapi dia memiliki kemampuan kinestetik atau musikal yang luar biasa. Sayangnya, kebanyakan sekolah di negara kita kurang memperhatikan kemampuan tersebut dan lebih berorientasi pada ketidakmampuan siswa sehingga siswa tersebut dinyatakan harus tinggal kelas.

Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa ketika dihadapkan pada kondisi tidak naik kelas, sebaiknya orang tua tidak melihat dari segi ketidakmampuan anak, tetapi lebih melihat apa yang menjadi kemampuan anak. Pandangan bahwa tidak naik kelas berarti tidak cerdas sama sekali tidak benar.

Orang tua sebaiknya tidak tergesa-gesa melabel anak sebagai tidak cerdas, karena pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasan meskipun dalam area yang berbeda-beda. Jika hal-hal tersebut dapat dipahami oleh orang tua, maka penerimaan orang tua terhadap anak makin besar sehingga anak tidak menjadi tertekan secara psikologis namun tetap mengembangkan diri sesuai dengan kecerdasan khusus yang dimilikinya.
Y. Titik Kristiyani, S.Psi. Staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: