Posted by: SDN Pondok Bambu 10 Pagi | July 28, 2009

Manajemen Berbasis Sekolah

Di Indonesia, MBS mulai dikenal pada tahun 1999. Awalnya dimulai dari kerja sama Unicef, UNESCO, dan Depdiknas dalam hal ini  Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Program rintisan MBS itu bernama creating learning community for children (CLCC) atau “menciptakan masyarakat peduli pendidikan anak”.

Program CLCC bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui pengembangan model untuk memberdayakan SD melalui pelaksanaan manajemen berbasis sekolah (MBS), metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), dan peran serta masyarakat (PSM) dalam lingkungan sekolah yang ramah anak (child-friendly school).

Kegiatan ini berlandaskan asumsi bahwa sekolah akan meningkat mutunya jika kepala sekolah, guru, dan masyarakat termasuk orangtua siswa diberikan kewenangan yang cukup besar untuk mengelola urusan sendiri, termasuk perencanaan dan pengelolaan keuangan sekolah, proses belajar – mengajar menjadi aktif dan menarik, para pendidiknya lebih ditingkatkan kemampuannya dan masyarakat sekitar sekolah ikut aktif dalam urusan persekolahan secara umum.

Pada manajemen berbasis sekolah, sekolah memiliki otonomi (kemandirian) untuk berbuat yang terbaik bagi sekolah. Ketergantungan pada tingkat pusat makin kecil, sehingga sekolah harus dewasa dan meyakini bahwa perubahan pendidikan tidak akan terjadi jika sekolah sendiri tidak berubah. Tentu saja kemandirian ini menuntut kemampuan sekolah untuk mengatur dan mengurus sekolahnya menurut prakarsanya sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

Karakterisik sekolah yang melaksanakan MBS:
1. Proses belajar – mengajar yang efektivitasnya tinggi.
2. Kepemimpinan sekolah kuat.
3. Lingkungan sekolah aman dan tertib.
4. Pengelolaan tenaga kependidikan efektif.
5. Memiliki budaya mutu.
6. Memiliki tim kerja yang kompak, cerdas, dan dinamis.
7. Memiliki kewenangan (kemandirian).
8. Partisipasi tinggi dari warga sekolah dan masyarakat.
9. Memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen.
10. Memiliki kemauan untuk berubah.
11. Melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
12. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan.
13. Memiliki komunikasi yang baik.
14. Memiliki akuntabilitas.
15. Memiliki kemampuan menjaga keberlanjutan.

File: manajemen_berbasis_sekolah.pdf


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: