Posted by: SDN Pondok Bambu 10 Pagi | July 15, 2009

GURU : “Penilaian yang Memotivasi Anak Didik”

oleh Drs Martadi MSn

Penilaian guru terhadap pekerjaan anak, menurut Amabile (1989), mungkin merupakan pembunuh motivasi belajar paling besar. Penilaian menurut pola pendidikan tradisional, guru memberikan tugas dan tes kepada anak yang dikoreksi dan dikembalikan dengan nilai angka dan tanda-tanda pada jawaban yang salah. Pada waktu-waktu tertentu, anak membawa pulang buku rapor dengan nilai untuk setiap mata pelajaran. Kemudian, setahun sekali orang tua datang untuk pertemuan dengan guru guna membicarakan kemajuan anak.

Untuk pembelajaran yang menunjang motivasi belajar anak, idealnya guru menilai pengetahuan dan kemajuan anak melalui interaksi yang terus-menerus dengan anak. Pekerjaan anak dikembalikan dengan banyak catatan dari guru, terutama menampilkan segi-segi yang baik dan kurang baik dari pekerjaan anak. Secara berkala, guru memberikan catatan tentang kemajuan anak untuk orang tua. Sebelum menulis laporan untuk orang tua, guru membicarakan secara perorangan dengan anak. Tidak hanya memberikan pendapat guru, tetapi juga meminta pandangan anak. Catatan tertulis untuk orang tua hendaknya juga melibatkan pandangan anak.

Sistem itu membuat penilaian lebih bersifat memberikan informasi daripada mengawasi. Anak melihat komentar guru tidak sebagai hadiah atau hukuman untuk mengawasinya, tetapi sebagai informasi yang berguna bagi belajar dan kinerjanya. Dengan demikian, motivasi belajar siswa tidak menurun, tetapi dapat meningkat.

Sesekali waktu, ibu juga dapat mengikutsertakan anak untuk menilai pekerjaan mereka. Agar anak tidak kecewa jika pekerjaannya kurang baik, guru hendaknya memperhatikan bagian atau soal mana yang dibuat cukup baik dan memberikan penghargaan. Misalnya, memberi tanda bintang. Selain itu, guru menunjukkan pengertian bahwa anak mengalami masalah dalam mengerjakan soal-soal tertentu dan mengajaknya mencari cara lain supaya anak dapat memahami kesalahan-kesalahan yang dibuat.

Dalam memberi penilaian, guru hendaknya menghindari kalimat yang bernada negatif. Misalnya, ”Kamu membuat salah lagi!”. Lebih baik bila guru mengungkapkannya dengan kalimat, ”Dapatkah kamu memikirkan cara lain untuk membuat itu?” atau ”Mari Saya tunjukkan cara lain untuk melakukan itu”. Yang penting adalah anak memahami makna dari membuat kesalahan. Dari kesalahan, kita dapat belajar. (*/hud)

Sumber: Jawa Pos, 28 Januari 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: